Sabtu, 06 November 2010

Mikha Bukanlah Anak Kandungku


Sebenarnya aku bukanlah seorang pria kuper. Hanya saja aku belum menemukan seorang gadis yang sesuai dengan harapanku. Sejak aku SMP-Kuliah aku hanya mempunyai 3 mantan. Semuanya pun berakhir saat lulus sekolah, itupun semua kesalahan berada di diriku. Sebab aku tidak berani untuk mengambil keputusan untuk mengambil keputusan atau jenjang pernikahan. Mantan pacarku di kuliah meminta putus, sebab aku tak kunjung merangkai janji-janji pernikahan. Tak lama kemudian iapun menikah dengan peria yang dijodohkan dengan orang tuanya. Setelah aku bekerja, aku, aku diminta cepat-cepat mencari seseorang untuk menikah oleh orang tuaku. Sampai suatu aku bertemu dengan mantan pacarku saat SMA. Kini dia semakin cantik dan dewasa, dia adalah seorang sosok wanita yang menemani hari-hariku saat di SMA. Benih-benih cinta yang pernah ada akhirnya pun kembali. Karena sudah didesak terus menerus oleh orang tuaku, aku pun melamar dia. Akhirnya pernikahan pun terjadi, tentu saja orang tuaku sangat bahagia. Sampai semuanya yang menyiapkan mereka bukan kami yang akan melangsungkan pernikahan tersebut.
Setelah beberapa bulan istriku pun dinyatakan hamil. Ditahun kedua istriku melahirkan anak pertamaku yang aku beri nama Mikha. Aku sangat menyayangi putri pertamaku tersebut. Anakku menjadi pusat perhatian dikeluargaku maupun di keluarga istriku. Sebab ia adalah cucu pertama bagi mereka. Walaupun lelah sepulang kerja aku sempatkan bermain bersama Mikha, istriku hanya bisa geleng-geleng kepalanya bila melihatku mengganggu Mikha hinga tertawa. Setelah beberapa tahun kemudian akupun ingin memiliki seorang anak laki-laki. Betapa bahagianya aku bila memiliki seorang anak perempuan dan laki-laki. Tapi heranya, walpun isrtiku tidak menggunakan kb setelah melahirkan anak pertamaku dia tak kunjung hamil. Akupun mengutarakan niatku ini kepada istriku, dia pun tangpak gugup dean berkata “mungkin kita belum di kasih rezeki olek tuhan untuk memiliki anak kedua”.
Aku pun terus bertanya-tanya dan pada akhirnya istriku memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan kondisi kita baik-baik saja. Hasil dari pemeriksaan dokter dikatakan istriku dalam keadaan sehat. Berati akulah yang bermasalah. Pada suatu saat aku memeriksakan ke dokter untuk memsatikan kondisiku baik-baik saja. Namun semuanya berbeda apa yang aku bayangkan selama ini. Aku difonis mandul sejak lama. Aku pun terkejut dan langsung terfikir dalam benakku bahwa Mikha bukanlah anak kandungku. Aku tidak ingin menuduh istriku berselingkuh, karena bila aku katakana ini ke istriku, aku tau betapa besar resiko dalam pernikanan kami. Lalu aku pun mulai melihat perbedaan yang ada didiriku dan Mikha. Ternyata benar dugaanku, kami berdua tidak memiliki satupun persaman layaknya seorang ayah dan anaknya. Mikha bukanlah anak kandungku! Berusaha sabar dan ikhalas saat ini yang ada di benakku. Bagai manapun dia hanya seorang anak kecil yang tak berdosa dan aku tidak bisa memiliki keturunan layaknya laki-laki normal. Pantas bagiku bila aku menyayangi dia, walaupun didalam hati kecilku aku sedih dan berfikir istriku telah tidur dengan laki-laki lain selain aku. Hanya ikhlas dan berusaha menerima yang harus aku tanam dalam diriku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar