Minggu, 17 April 2011

Busung Lapar

ASI terasa mengering, takbergizi, tak memuaskan rasa dahaga dan lapar buat anak-anak malang di pojok timur Indonesia. Di NTT, selama setahun ini, 61 anak Balita mati dengan mengenaskan lantaran menderita busung lapar, bahasa halusnya “kurang gizi.” Dan masih banyak Balita di daerah-daerah lain yang mengidap penyakit serupa.

Menurut standar yang disiarkan Departemen Kesehatan; gizi cukup bagi anak Indonesia (usia 0-6 bulan): berat badan 6 kg, tinggi badan 60 cm, energi 550 Kkal, protein 10 g, Vitamin A 375 RE, Vitamin D 5 ug, Vitamin E 4 mg dan Vitamin K 5 ug. Sedangkan (usia 7-12 bulan): berat badan 8,5 kg, tinggi badan 71 cm, energi 650 Kkal, protein 16 g, Vitamin A 400 RE, Vitamin D 5 ug, Vitamin E 5 mg dan Vitamin K 10 ug. Gejala kurang makan yang akut berujung pada penyakit kurang gizi alias busung lapar.

Dunia ini memang penuh dengan ketimpangan dan ketidakadilan. Di Jakarta, orang kaya dengan mudah menghabiskan puluhan juta rupiah di hotel-hotel berbintang dan tempat-tempat hiburan elit, hanya dalam semalam. Padahal orang-orang miskin, baik di desa maupun di kota, membanting tulang seharian untuk memberi makan apa adanya, makanan kurang gizi, kepada anggota keluarga mereka. Sebuah ironi yang menggemaskan, tetapi memalukan.

Aneh, di era yang serba canggih ini, di Indonesia malah terjadi proses pemiskinan. Rumus pemiskinan paling sederhana; harga-harga meroket minus pendapatan rendah atau pendapatan nol.

Belakangan ini, proses tersebut menggumpal ibarat gunung es setelah pemerintah (tahun 2005) dua kali menaikkan harga BBM. Angka RTM-pun serta merta naik dari 15 juta menjadi 15,6 juta. Kenaikan harga BBM yang kedua (1/10-2005) membuat banyak RTM (Rumah Tangga Miskin) terhempas ke lembah busung lapar. Memang pemerintah memberikan kompensasi, yaitu dana bantuan tunai Rp 300.000 untuk setiap RTM. Tetapi uang tunai itu menguap dalam sekejap karena mereka harus menutup utang dan membeli barang-barang kebutuhan pokok.

Penuh retorika—kalau tidak bisa dibilang sandiwara politik—para anggota parlemen merasa bahwa solusi gizi buruk anak-anak malang tersebut cukup diatasi dengan interpelasi alias penggunaan hak bertanya mereka. Tidak lebih dari itu. Tidak ada upaya yang lebih serius dan pengamatan lebih mendalam, kenapa ada keluarga —berbulan-bulan—tidak mampu memenuhi kebutuhan yang paling dasar sekalipun. Kenapa di sudut-sudut desa dan kota yang kumuh, anak-anak harus menderita dan mati kelaparan.

Boleh dibilang para anggota parlemen sudah cukup puas hanya lantaran interpelasi mereka ditanggapi pemerintah. Padahal jawaban pemerintah juga penuh retorika. Tidak banyak menyentuh persoalan dasar. Masalah yang mesti diatasi; ribuan Balita di seluruh penjuru negeri tergeletak tak berdaya dan mati mengenaskan lantaran busung lapar. Memang paling mudah mencari dalih. Kambing hitam satu: warisan masa lalu. Dan kambing hitam dua: ketidakberdayaan pemerintah mengatasi hambatan politis dan teknis.

Seperti yang terjadi pekan lalu (7/3) di depan sidang paripurna DPR: Aburizal Bakrie, konglomerat yang dipercaya menjabat Menko Kesra, berbicara tentang terjadinya gizi buruk yang dia kaitkan dengan warisan masa lalu, otonomi daerah, dan lumpuhnya sarana dan prasarana pelayanan. Di sisi lain, reaksi para anggota parlemen yang dipilih oleh sebagian besar pemilih miskin itu, kebanyakan hanya basa-basi. Tak ada tindak lanjut.

Lantas apa hasil konkrit dari penggunaan hak interpelasi DPR? Nonsen. Kecuali kegalauan yang muncul di media massa; mempersoalkan ketidakhadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjelaskan langsung kepada para wakil rakyat tentang kemelut busung lapar dan penyakit polio, dua sisi suram yang sangat melekat dengan keseharian masyarakat miskin.

Rasanya setelah negeri ini merdeka 61 tahun, semakin banyak orang jatuh miskin, menyentuh angka hampir 100 juta jiwa. Ini yang membuat mereka tak mampu—memenuhi standar gizi, tinggal di rumah yang layak, merawat kesehatan dan mendidik anak-anak mereka.

Semestinya, selama rentang waktu tersebut, negara sudah mampu memberi rakyatnya lapangan kerja dengan penghasilan yang memadai, pendidikan dan perawatan kesehatan secara cuma-cuma. Yang terjadi malah sebaliknya. Indonesia malah tersingkir dari kelompok negara-negara berkembang dan terjerembab ke dalam kelompok negara-negara miskin.
Akibatnya, ribuan calon tenaga kerja wanita dan anak-anak mengalir dari Jawa, Madura, NTB, NTT dan Kalimantan Barat, masuk secara gelap ke Brunai Darussalam, Sabah dan Serawak. Di sana mereka dijanjikan pekerjaan yang tidak bisa disediakan oleh pemerintah. Negeri ini menjadi tidak bermartabat, bahkan di depan mata negeri-negeri serumpun.

Muak hidup miskin turun temurun dan bertekad mengubah nasib, mereka pun tergiur rayuan dan janji muluk para calo. Banyak yang masuk perangkap perdagangan manusia, terjerat perdagangan seks dan perbudakan anak-anak. Risiko ini mereka ambil juga supaya tidak menderita kelaparan di negeri sendiri.

Agaknya, peribahasa: “hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang,” tak lagi berlaku bagi mereka.


Sumber : beritaindonesia.co.id

Wabah facebook melanda

Terlalu mengada-ada ? atau lebay (berlebihan) ? yah…mungkin iya. Tapi buat saya sekarang facebook sudah menjadi wabah. Walaupun bukan penyakit yang berbahaya tetapi kalau saya lihat suasana santai teman-teman di kantor yang mereka lakukan hampir semuanya sedang meng-akses facebook.

Bisa jadi layanan lain macam yahoo messenger atau friendster sudah ditinggalkan. Keasikan meng-akses facebook juga saya rasakan. Dengan facebook saya jadi bisa tahu teman-teman mulai dari SD, SMP dan SMA yang sudah lama tidak tahu kabarnya. Sampai foto saya waktu jadul yang saya tidak tahu itu ada terpasang di salah satu koleksi foto teman saya di facebook. Meskipun begitu rupanya keasikan facebook yang bisa menyita waktu cukup membuat prihatin beberapa instansi dan perusahaan. Ada beberapa yang memblokir website facebook agar karyawannya tidak bisa mengaksesnya di kantor.

Bahkan saat saya tanya salah satu teman yang sedang berada di luar negeri tidak bisa mengakses facebook karena oleh pemerintah setempat di blokir.
Itulah mengapa saya sebut wabah…yah semoga tidak menjadi wabah yang berbahaya aja.


Sumber : adang

Ledakan Pertamina Cilacap Telan Dua Korban

Menurut Public Relation Section Head Pertamina RU IV, Kurdi Susanto, Minggu (24/1), dua karyawan itu dilarikan ke rumah sakit karena terkejut saat terjadinya flash (api yang menyambar sekilas dan hilang) pada 'furnish cylinder LOC 1' di unit pelumas.

"Mereka masih dalam keadaan sadar, hanya terkejut saja," kata dia tanpa menyebutkan identitas dua karyawan tersebut.

Disinggung mengenai getaran yang dirasakan warga akibat ledakan tersebut, dia mengatakan, flash yang terjadi memungkinkan adanya getaran. "Seperti gas elpiji di rumah kalau terjadi flash, getarannya akan terasa kencang," katanya.

Sebelumnya, warga Cilacap dikejutkan dengan adanya ledakan dan getaran dari arah Kilang Pertamina RU IV Cilacap. Bahkan getaran tersebut dapat dirasakan hingga radius dua kilometer lebih.

"Tadi saya mendengar suara ledakan keras dari arah Pertamina yang disusul getaran," kata Andi, warga di Jalan Gatot Subroto Cilacap yang berjarak sekitar dua kilometer dari Kilang Pertamina.


Sumber : inilah.com

"Bayi Dempet Pinggul Jalani Operasi"

Bayi kembar dempet pinggul Rohman dan Rohim asal Jombang, Jawa Timur, menjalani operasi pemisahan di Rumah Sakit Dokter Sutomo Surabaya. Proses pemisahan yang dilakukan 50 dokter ahli berbeda berlangsung maraton selama 27 jam.
Sejak terlahir satu setengah tahun lalu, Rohman dan Rohim mengalami gangguan fisik. Tidak seperti bayi kembar lain, pinggul keduanya dempet. Tentu saja hal ini mengganggu metabolisme fisik sang bayi, karena mereka hanya memiliki kelamin tunggal.

Untuk memisahkan tubuh ringkih ini, tim dokter melakukannya secara khusus. Sebanyak 50 dokter ahli berbeda dilibatkan dan operasi pemisahan dilakukan selama 27 jam penuh tanpa henti. Diperkirakan operasi pemisahan bayi kembar siam dempet pinggul ini baru selesai besok siang.

Pemisahan akan diawali dokter bedah plastik dan ortopedi yang mempelajari daerah pinggul dan memisahkan tulang ekor secara simeteris. Kemudian dokter mengidentifikasi pembuluh darah di sekitar kelamin keduanya. Proses inilah yang nantinya menentukan kepada siapa kelamin tunggal akan diberikan. Meski berat, bagi orangtua mendapatkan hidup anaknya normal adalah yang utama.

Operasi pemisahan bayi kembar siam secara maraton ini dilakukan secara terbuka. Keluarga dan wartawan bisa memantaunya secara langsung melalui monitor di ruang khusus yang dilengkapi fasilitas hiburan.


Sumber : news.mnctv.com

50 Perompak Somalia Bajak Kapal Indonesia

Sekelompok orang berjumlah 30 hingga 50 orang membajak kapal kargo Indonesia. Kapal itu lantas digunakan sebagai kapal induk untuk melancarkan serangan pada kapal lain pada hari Kamis.

Demikian dinyatakan badan anti pembajakan Uni Eropa (Navfor), sebagaimana dirilis AFP, Kamis (17/3/2011).

Perompak membajak kapal bermuatan barang curah bernama Sinar Kudus sekitar 320 mil laut timur laut dari pulau Socotra pada hari Rabu (16/3) pagi. Kapal itu mengangkut 20 pelaut Indonesia.

"Detail pembajakan belum diketahui saat ini, namun laporan awal dari kru menyatakan bahwa 30 hingga 50 perampok berada di atas kapal dan mengambil kendali kapal," kata Navfor.

Kapal itu lalu digunakan untuk menyerang kapal kargo Emperor berbendera Liberia namun pembajakan itu berhasil digagalkan pasukan keamanan bersenjata kapal setelah "adu tembak".

Pada 15 Maret, India menangkap gerombolan bajak laut. Penangkapan ini diyakini sebagai penangkapan terbesar bajak laut. Penangkapan bajak laut ini diwarnai dengan bentrokan bersenjata di Laut Arab.

Angkatan Laut India mengatakan berhasil menangkap 61 bajak laut dan berhasil menyelamatkan 13 kru kapal asal Mozambik yang menjadi korban pembajakan di Samudera India.

Kapal Mozambik bernama Vega 5 ini dibajak akhir Desember lalu dan operasi penyelamatannya melibatkan dua kapal tempur India di kawasan Laut Arab atau sekitar 1100km lepas pantai Kochi dan terlibat dalam kontak senjata.

Sejumlah senjata berbagai ukuran ikut disita dalam penggerebekan tersebut.


Sumber : detiknews.com

"Ini Wabah Ulat Bulu Terparah dalam Sejarah"

Wabah ulat bulu menyerang warga tujuh desa di Probolinggo, Jawa Timur. Tak hanya ribuan, jutaan ulat bulu yang membuat gatal bergelantungan di pepohonan, dan terancam masuk ke rumah-rumah warga.

"Tidur saya tidak tenang, jumlah ulat terlalu banyak, tidak karuan," kata salah satu warga Desa Clarak, yang diserang ulat bulu, seperti ditayangkan tvOne, Rabu 30 Maret 2011. Ditambahkan dia, kegiatan warga sehari-hari juga berkurang drastis, mereka sibuk membersihkan ulat-ulat itu.

Bagaimana cara menanggulangi wabah ulat bulu yang membuat bulu kuduk merinding ini?

Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur, Wibowo Eko Putro mengungkapkan, pihaknya terus bahu membahu, melibatkan masyarakat menangani wabah ulat bulu itu. Di antaranya, menyemprotkan pestisida dan memangkas pohon-pohon yang diserang ulat.

"Tanamannya tidak mati, untuk mengurangi populasinya selain dilakukan penyemprotan juga harus dilakukan pemangkasan dan pohonnya bisa semi kembali," kata Wibowo Eko Putro saat dihubungi VIVAnews.com, Rabu, 30 Maret 2011.

Untuk melokalisasi wabah ulat bulu, tidak hanya Probolinggo, alat pestisida juga dikirim ke empat daerah lain di Jawa Timur. "Untuk yang di Probolinggo distribusi alat penyemprot dan pestisida telah dilakukan sejak Februari lalu," lanjut Eko.

Sementara, jutaan ulat bulu bisa membuat gatal itu terus meluas di sejumlah wilayah. Jika sebelumnya di tiga kecamatan yakni, Leces, Bantaran dan Tegal Siwalan. Saat ini meluas hingga di Kecamatan Wonomerto dan Sumberasih.

Wibowo menguraikan, untuk menanggulangi wabah itu ada ribuan batang pohon yang harus dipangkas. Diantaranya, sebanyak 2.067 pohon di Kecamatan Leces, 3.464 pohon di Kecamatan Tegal Siwalan, 1.640 pohon di Kecamatan Bantaran dan 770 pohon di Kecamatan Sumberasih.

Selebihnya, Eko minta lima daerah penghasil mangga di Jatim, Probolinggo, Pasuruan, Situbondo, Bondowoso dan Gresik mewaspadai hama tersebut. Eko menjelaskan, di Probolinggo memang sering ada serangan ulat. Namun, kali ini terparah sepanjang sejarah.

Terkait itu Dinas Pertanian telah menerjunkan tim pengamat hama dan penyakit, serta pengendali organisme tumbuhan untuk menyelidiki dan mengantisipasi persebaran ulat bulu ke wilayah lain.

Lanjut Eko, dari sisi akademis, ulat bulu menyerang karena mereka memerlukan tempat untuk metamorfosis. Mengapa pohon mangga jadi sasaran? Menurut dia, pohon mangga memiliki kelembaban yang cocok, yang disukai ulat saat spesies itu berubah jadi kepompong.


Sumber : VIVAnews.com

ESDM: Cadangan Minyak Tinggal 23 Tahun

Kabar mengkhawatirkan datang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Cadangan energi dari fosil di Indonesia ternyata hanya bisa bertahan hingga 23 tahun. Bila pemakaian tak efisien, maka usia cadangan pun akan terpangkas lebih dini.

"Bila pemakaiannya terus digenjot, maka hal itu akan semakin mempercepat usia cadangan," kata Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh seusai membuka Riau Energi Expo 2011, Selasa (12/4/2011) di Riau.

Darwin mengungkapkan, cadangan minyak bumi yang saat ini menjadi primadona diperkirakan hanya akan bertahan 23 tahun, gas bumi 63 tahun, sementara batu bara sekitar 77 tahun. "Memang kita sudah waktunya untuk tidak terlalu menggantungkan diri pada non-renewable atau fosil base energi, dalam hal ini minyak bumi, gas, dan batu bara," ungkapnya.

Darwin mengatakan, sudah saatnya tidak lagi menggantungkan kebutuhan energi pada yang non-terbarukan (non-renewable) dan bahan bakar berbasis fosil (fosil base), tetapi ada energi terbarukan.

Darwin juga mengajak masyarakat menggunakan energi fosil yang ada dengan langkah-langkah efisiensi. Hal itu diharapkan dapat menghasilkan energi yang lebih tinggi. "Efisiensi harus dilakukan untuk menghasilkan energi yang lebih tinggi lagi," paparnya seraya mengajak masyarakat mengubah gaya hidup penggunaan energi.

"Masyarakat perlu mengubah gaya hidupnya dari mempergunakan energi secara intensif menjadi energi efisien," ungkapnya. (Srihandriatmo Malau)


Sumber : JAKARTA, KOMPAS.com